Skip to main content

Sang Waktu


Seorang ahli ilmu falak mohon bertanya:

Guru, dan bagaimanakah perihal Sang Waktu?

Dijawab oleh Sang Guru:
Kau ingin mengukur Sang Waktu yang tiada ukur dan tanpa ukuran. Engkau hendak menyesuaikan sepak terjangmu, bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menggunakan ukuran musim serta jam-jam waktu. Suatu ketika kau akan menciptakan sungai cita-cita, dan di pinggirnya kau merenungi aliran airnya.

Namun unsur abadi dalam dirimu, tiada asing lagi tapi telah menyadari keabadian Sang Waktu, dan mengetahui bahwa hari kemarin tiada lain dari kenangan hari ini, dan hari depan merupakan impian masa kini.

Dan bahwa apa yang bernyanyi, merenung diri dalam sanubari sesungguhnyalah masih senantiasa menghuni ruang semesta saat pertama yang menaburkan bintang di angkasa raya.

Siapakah diantaramu yang tiada merasa bahwa kemampuannya berkasih sayang tiada terduga? Namun siapa pula yang tak menghayati bahwa kasih sayang sejati walau tanpa batas bersemayam dalam inti diri, dan tiada bergerak dari satu perasaan kasih ke perasaan kasih berikutnya. Pun tiada melompat dari tindakan kasih ke tindakan kasih selanjutnya.

Dan bukankah Sang Waktu sebagaimana hakekat cinta kasih tiada mengenal batas ukuran, serta tak dapat dibagi?

Tapi pabila ada keharusan dalam pikiran untuk membagi Sang Waktu ke dalam ukuran musim demi musim, maka biarkanlah tiap musim merangkum musim lainnya.

Serta biarkanlah masa kini selalu memeluk masa lampau dengan kenangan.

Dan merangkul masa depan dengan kerinduan.

Comments

Popular posts from this blog

Suka dan Duka

Lalu seorang wanita bicara, menanyakan masalah suka dan duka. Yang dijawabnya: Sukacita adalah dukacita yang terbuka kedoknya. Dari sumber yang sama yang melahirkan tawa, betapa seringnya mengalir air mata. Dan bagaimana mungkin terjadi yang lain? Semakin dalam sang duka menggoreskan luka ke dalam sukma, maka semakin mampu sang kalbu mewadahi bahagia. Bukankah piala minuman, pernah menjalani pembakaran ketika berada dalam pembuatan? Dahulu bukanlah seruling penghibur insan adalah sebilah kayu yang pernah dikerati tatkala dia dalam pembikinan? Pabila engkau sedang bergembira, mengacalah dalam-dalam ke lubuk hati, Disanalah nanti engkau dapati bahwa hanya yang pernah membuat derita berkemampuan memberimu bahagia. Pabila engkau berdukacita, mengacalah lagi ke lubuk hati, Disanalah pula kau bakal menemui bahwa sesungguhnyalah engkau sedang menangisi, sesuatu yang pernah engkau syukuri. Diantara kalian ada yang mengatakan: "Sukacita itu lebih besar dari dukacita". Yang lain pula b...

Perpisahan

(sambungan dari Perpisahan A) ...Yang merekam hari-hari kemarin dulu, dan masa-masa terpendam jauh silam, ketika bumi belum mengenal kita dan dirinya sendiri, dan kegelapan ketika bumi resah dalam kegelisahan malam. Orang bijaksana telah banyak mendatangimu, untuk memberikan ajaran kebijaksanaannya, namun aku datang mengambil kebijaksanaan itu: Lalu lihatlah, kutemukan sesuatu, Yang malah lebih besar dari kebijaksanaan. Itulah api sumber semangat dalam dirimu, Yang makin lama makin tumbuh dan berkembang, Sedangkan kau yang tak menyadari perkembangan itu, Meratapi hari-harimu yang nampak menjadi usang. Adalah kehidupan yang mencari hidup jasmaniah belaka, Yang masih gentar menghadapi pintu alam baka. Tiada pekuburan di sini, Gemunung ini dan dataran ini, yang luas terhampar, Tak lain dari sebuah tilam, buaian mimpi, Dan sebuah batu loncatan, sebentuk dampar. Pabila kau melewati sebidang tanah sunyi, Tempat kau baringkan nenek-moyang leluhurmu, Amatilah seksama permukiman itu, Dan akan...

Kerja

Seorang peladang datang bertanya: Berilah penjelasan pada kami soal kerja. Maka demikianlah bunyi jawabnya: Kau bekerja supaya langkahmu seiring irama bumi, serta perjalanan roh jagad ini. Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim. Serta keluar dari barisan kehidupan sendiri. Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya, menuju keabadian masa. Bila bekerja engkau ibarat sepucuk seruling, lewat jantungnya bisikan sang waktu menjelma lagu. Siapa mau menjadi ilalang dungu dan bisu, pabila semesta raya melagukan gita bersama? Selama ini kau dengar orang berkata, bahwa kerja adalah kutukan, dan susah payah merupakan nasib, takdir suratan. Tetapi aku berkata kepadamu bahwa bila kau bekerja, engkau memenuhi sebagian cita-cita bumi yang tertinggi. Yang tersurat untukmu, ketika cita-cita itu terjelma. Dengan selalu menyibukkan diri dalam kerja, hakekatnya engkau mencintai kehidupan. Mencintai kehidupan dengan bekerja, adalah menyelami rahasia hidup yang paling dalam. Namun pabila d...