Datang seorang kaya. Duhai, bicaralah pada kami tentang Pemberian. Dan jawaban Sang Guru: Bila kau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila kau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti. Sebab apalah harta milik itu, pabila bukan simpanan yang kau jaga. Buat persediaan hari kemudian? Dan hari kemudian mengandung janji apakah bagi dia, si anjing kikir, Yang menimbun tulang-tulang di bawah pasir, Dalam perjalanan ke kota suci, mengikuti musafir? Dan bukanlah ketakutan akan kemiskinan, merupakan kemiskinan tersendiri? Ketakutan akan dahaga, sedangkan sumur masih penuh, bukankah dahaga yang tak mungkin terpuaskan? Ada orang yang memberi sedikit dari miliknya yang banyak, dan pemberian itu dilakukan demi ketenaran Hasrat tersembunyi membuat tak murni dermanya. Ada pula yang memiliki sedikit dan memberikan segalanya. Mereka lah yang percaya akan kehidupan dan anugerah kehidupan. Dan peti mereka tiada pernah mengalami kekosongan. Ada yang memberi dengan kegirangan...
Every few hundred years, a blazing beacon hurls itself onto this plane called reality. On January 6, 1883, such a great light took form, blessing us with Kahlil Gibran. Through this channel were to come many famous works. This Lebanese-born poet, philosopher and artist knew from early childhood that life was more than it seemed.