Seorang terpelajar datang meminta sebuah uraian tentang Bicara. Maka dijawabnya: Engkau bicara, jikalau tak menemukan kedamaian dengan pikiran, yaitu tiada tahan lagi bersembunyi diri dalam hati. Maka kau hidup dengan bibirmu dan suara katamu menjadi hiburan perintang kalbu. Dalam kebanyakan ucapan, setengah fikiran tenggelam binasa, sebab fikiran adalah burung angkasa semesta yang dalam kurungan bentuk kalimat dan kata meski dapat jua membeberkan sayapnya namun tak mungkin terbang ke angkasa raya. Beberapa diantaramu mencari teman yang gemar bicara, terdorong kekhawatiran akan kesepian. Sebab heningnya kesunyian akan membuka mata insan terhadap kekurangsempurnaan diri. Dan karena itulah mereka lari. Ada pula yang bicara, dan dengan demikian tanpa sengaja ataupun tiada sadar membuka tabir kebenaran, yang tidak diketahuinya sendiri. Dan ada pula mereka yang menyimpan kebenaran di dalam kalbu namun tidak dia ucapkan dalam ujud perkataan. Dalam pribadi semacam ini sang jiwa bertahta dalam...
Every few hundred years, a blazing beacon hurls itself onto this plane called reality. On January 6, 1883, such a great light took form, blessing us with Kahlil Gibran. Through this channel were to come many famous works. This Lebanese-born poet, philosopher and artist knew from early childhood that life was more than it seemed.